Sabtu, 14 April 2012

contoh PTK CTL

BAB  I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Reformasi pendidikan di Indonesia telah bergulir sejalan dengan kebijakan otonomi daerah yang di dalamnya tercantum sektor pendidikan. Dalam lingkup internasional ditandai dengan derasnya arus informasi (dalam konteks ini, ilmu pengetahuan dan teknologi serta budaya) yang mengglobal, yang harus diantisipasi dalam bidang pendidikan. Kecenderungan pendidikan dalam skala global, mengarah pada kecakapan hidup yang dicanangkan oleh UNESCO sebagai empat pilar pendidikan, yaitu: 1.learning to know 2.learning to do 3.learning to be 4.learning to live together.Teori perkembangan peserta didik dan pembelajaran pun berkembang sejalan dengan kecakapan hidup tersebut, yakni Teori  Kontruktivisme, Teori Contextual Teaching & Learning dan sebagainya. Sejalan dengan otonomi daerah, Departemen Pendidikan Nasional mulai berbenah diri, antara lain dengan dirancang ulang visi, misi, tujuan dan strategi pendidikan. Salah satu kebijakan dasar yang menyentuh sekolah adalah dikembangkan MPMBS (Management Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah) dan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Paradigma pendidikan bergeser dari schooling (sekolah) ke learning (pembelajaran). Salah satu ciri schooling adalah mengutamakan target penyelesaian kurikulum dan menghasilkan tamatan (selesai sekolah), sedangkan ciri belajar (learning) adalah mengutamakan ketuntasan belajar yang menghasilkan lulusan yang kompeten/cakap. (Soleh, 2003)
Berangkat dari visi, misi, tujuan dan strategi pendidikan, SDN Cilincing 02 Pagi, berupaya mengefektifkan pembelajaran IPA dengan metode CTL (Contextual Teaching and Learning) menuju ke arah model pembelajaran yang lebih baik mengikuti perkembangan pendidikan seperti yang dicanangkan oleh UNESCO. Dalam proses belajar mengajar menurut kurikulum 1975  penekanan belajar mengajar menggunakan metode ceramah/klasikal (Kusdinar,1992), sedangkan dalam pola pendidikan modern peserta didik dipandang sebagai pusat terjadinya proses belajar (Alipandie,1984). Peserta didik sebagai subjek yang berkembang melalui pengalaman belajar. Guru lebih berperan sebagai fasilitator dan motivator belajar. Tugas guru adalah membantu dan memberikan kemudahan agar peserta didik mendapatkan pengalaman belajar sesuai kebutuhan dan kemampuannya sehingga terjadi suatu interaksi aktif.
Perpaduan antara kegiatan belajar pada peserta didik dalam kelas  dapat direalisasikan dalam jenis metode yang akan digunakan. Kecakapan seorang guru dalam memilih dan menentukan yang tepat menjadi syarat dalam merancang strategi mengajar sesuai tujuan pembelajaran yang telah ditentukan dalam kurikulum, sehingga dapat dimengerti betapa pentingnya penggunaan metode yang tepat sebagai alat pencapaian tujuan mempunyai peranan yang sangat menentukan dalam proses belajar mengajar yang efektivitasnya tinggi dengan penerapan CTL dan Life skill (Sumartini, 2003). UUD 1945 menginginkan agar setiap warga negara Republik Indonesia mendapat kesempatan belajar seluas-luasnya, seperti dikemukakan dalam komisi Pembaharuan Nasional agar pendidikan di Indonesia bersifat semesta atau menyeluruh dan terpadu. Artinya pendidikan di Indonesia dapat dinikmati oleh semua warga negara. Ada mobilitas antara pendidikan formal dan non formal sehingga terbuka pendidikan seumur hidup (Long Life Education).
Dalam pembelajaran IPA dengan model CTL, diharapkan peserta didik memiliki pengalaman baru. Hal ini karena peserta didik mendapat pengalaman praktis yang dapat membentuk perasaan dan keinginan peserta didik terhadap fenomena alam sekitar. Dengan adanya penemuan oleh pengalaman sendiri diharapkan peserta didik mampu memahami dan menjabarkan apa yang telah dipelajari dan dilaksanakan sesuai dengan konsep-konsep yang telah tercakup di dalamnya.
Dari hasil ulangan harian terbukti bahwa nilai peserta didik masih dibawah Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). Nilai rata-rata 60 yang tuntas dalam belajarnya 32 %. Aktifitas peserta didik sangat rendah dengan rata-rata 48.23 karena sebagian peserta didik banyak yang tidak mengerti serta pembelajaran IPA dianggap pelajaran yang tidak dapat mengembangkan potensi anak .

B.     Identifikasi Masalah
Dari latar belakang yang telah disampaikan di atas, masalah dapat diidentifikasi sebagai berikut :
1.      Apa yang disebut efektivitas belajar ?
2.       Faktor-faktor apa sajakah yang mempengaruhi efektivitas belajar ?
3.      Model pendekatan apa sajakah yang mempengaruhi efektivitas belajar peserta didik ?
4.      Apakah metode CTL meningkatkan efektivitas belajar peserta didik ?


C.    Pembatasan Masalah
Karena terbatasnya waktu dan kemampuan, maka masalah yang akan dibahas adalah metode CTL dan peningkatan efektivitas pembelajaran IPA.
D.    Perumusan Masalah
Berdasarkan identifikasi dan pembatasan masalah dapat dirumuskan sebagai berikut: Apakah dengan metode  CTL dapat meningkatkan efektivitas belajar IPA peserta didik ?
E.     Tujuan penelitian
a.       Tujuan dari penulisan karya ilmiah ini untuk mengetahui antara metode CTL (Contextual Teaching and Learning) dan efektivitas pembelajaran.
b. Sebagai bahan tambahan wawasan para guru dalam pelaksanaan KBM dengan metode CTL.
A.      Manfaat Penelitian
Manfaat hasil penelitian tindakan kelas ini dalah untuk meningkatkan proses belajar, yang akhirnya dapat meningkatkan pemahaman belajar, keaktifan dan hasil belajar peserta didik. Adapun manfaat dalam penelitian ini dikelompokan menjadi tiga bagian, yaitu :
1.      Bagi Peserta Didik
Membuat peserta didik lebih aktif dalam mengerjakan tugas mandiri atau kelompok, serta lebih berani menggunakan ide, pendapat, pertanyaan dan saran dalam mengikuti proses belajar mengajar sehingga lebih memudahkan peserta didik dalam mempelajari IPA.


2.      Bagi guru
Membantu memberikan informasi dalam mengembangkan strategi belajar mengajar melalui model pembelajaran CTL dan memiliki gambaran tentang pembelajaran IPA yang efektif, serta dapat meningkatkan kemampuan guru untuk memecahkan permasalahan yang muncul dari peserta didik.
3.      Bagi peneliti
Menambah wawasan tentang model pembelajaran CTL sehingga penulis dapat menerapkan metode pembelajaran yang tepat dalam proses belajar mengajar.





















BAB II
KAJIAN PUSTAKA

A.      Kajian Teori
  1. Proses Belajar Mengajar (PBM)
PBM merupakan inti dari proses pendidikan secara keseluruhan, dalam PBM ada kegiatan yang integral (utuh terpadu) antara peserta didik yang belajar dan guru yang mengajar dalam kesatuan kegiatan ini terjadi interaksi resiprokal yakni hubungan antara guru dan peserta didik dalam suasana yang bersifat pembelajaran. Hal ini sesuai dengan pendapat Usman (1991) yang menyatakan bahwa PBM merupakan suatu proses yang mengandung serangkaian perbuatan guru dan peserta didik atas dasar hubungan timbal balik yang berlangsung dalam situasi edukatif untuk mencapai tujuan tertentu .
Usman (1991) menyatakan bahwa interaksi timbal balik antara guru dan peserta didik adalah syarat utama bagi berlangsungnya PBM. Interaksi edukatif antara guru dan peserta didik berperan aktif mengolah pesan informasi atau materi pelajaran, hingga memperoleh kebermaknaan dari setiap perbuatan masing-masing. Guru berusaha menciptakan kondisi belajar yang memungkinkan terjadinya pengalaman belajar pada diri peserta didik, dengan mengerahkan segala sumber belajar, dan menggunakan berbagai strategi mengajar yang tepat dan peserta didik berupaya mengembangkan dirinya melalui kegiatan belajar untuk meraih hasil yang optimal.
Proses, menurut Hamalik (Dahlia,1999), merupakan urutan kegiatan yang berlangsung secara berkesinambungan, bertahap, bergilir, dan terpadu yang secara keseluruhan mewarnai dan memberi karakteristik terhadap belajar mengajar. Proses dalam pengertian ini merupakan interaksi semua komponen atau unsur yang terdapat dalam PBM di mana satu sama lain saling berhubungan dalam ikatan untuk mencapai tujuan. Belajar menurut Surya (1995) bahwa Belajar adalah suatu proses yang dilakukan oleh individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil dari pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.
Mengajar pada hakikatnya adalah suatu proses mengatur, mengorganisasi lingkungan yang ada di sekitar peserta didik sehingga dapat menumbuhkan dan mendorong peserta didik melakukan proses belajar (Sudjana, 2000). Pada tahap berikutnya mengajar adalah proses memberikan bimbingan atau bantuan kepada peserta didik dalam melakukan proses belajar, sehingga dapat dikatakan bahwa mengajar merupakan suatu perbuatan yang memerlukan pengalaman moral. Berhasilnya pendidikan pada peserta didik sangat tergantung pada pertanggung jawaban guru dalam melaksanakan tugasnya.
  1. Strategi Mengajar
Seorang guru untuk menentukan kegiatan belajar peserta didik perlu menggunakan strategi mengajar yang efektif. Salah satu metode tersebut adalah metode CTL (Blanchard, 2001). Menurutnya bahwa metode CTL mendorong peserta didik belajar dari sesama teman dan belajar bersama salah satu landasan teoritik pendidikan IPA modern termasuk CTL yaitu teori pembelajaran kontruktivis (Nur, 2001). Metode ini pada dasarnya menekankan pentingnya peserta didik membangun sendiri pengetahuan mereka lewat keterlibatan aktif proses belajar mengajar. Pendekatan kontruktivis modern tersebut berdasarkan pada teori vygotsky, yang menekankan pembelajaran kooperatif dan pembelajaran yang berbasis kegiatan dan penemuan. Disamping itu, interaksi yang dilakukan guru hendaklah mengacu pada prinsip-prinsip pembelajaran CTL.
  1. Contextual teaching and Learning
Pengajaran dan pembelajaran kontekstual atau contextual teaching and learning (CTL) merupakan suatu konsepsi yang membuat guru mengaitkan kontek mata pelajaran dengan situasi dunia nyata dan memotivasi peserta didik membuat hubungan antara pengetahuan dan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga, warga negara dan tenaga kerja (U.S. Departement Of Education and the National School-to-Work office yang dikutip oleh Blanchard, 2001).
4. Belajar Mengajar dengan metode CTL
Penerapan metode interaksi belajar mengajar dalam CTL harus mengacu pada prinsip-prinsip pembelajaran CTL, yaitu inquiri, questening, learning community, kontruktivisme dan pemodelan. Metode adalah cara yang dalam fungsinya merupakan alat untuk mencapai tujuan. Hal ini berlaku bagi guru (metode mengajar) maupun bagi murid (metode belajar). Makin baik metode itu makin efektif pula pencapaian tujuan. Untuk menetapkan apakah sebuah metode dapat disebut  baik, diperlukan patokan yang bersumber dari  beberapa faktor. Faktor utama pertama yang menentukan adalah tujuan yang akan dicapai. Khusus mengenai metode interaksi dalam pengajaran di dalam kelas selain faktor tujuan, juga faktor siswa, faktor situasi, fasilitas, dan faktor guru ikut menentukan efektif tidaknya suatu metode. Metode interaksi yang dapat digunakan  dalam pembelajaran CTL yakni: metode, ceramah, metode diskusi, metode demonstrasi, metode eksperimen, metode tanya jawab dan kerja kelompok (Depdiknas, 2002).
Pembelajaran kontekstual (CTL) bukanlah suatu konsep baru, karena Dewey (1916) telah mengusulkan suatu kurikulum dan metodologi pengajaran yang dikaitkan dengan minat dan pengalaman peserta didik.
Menurut pandangan CTL, sebuah proses pembelajaran seharusnya:
a)  Menekankan pada pemecahan masalah (berbasis inquiri).
b) Menyadari kebutuhan akan pengajaran dan pembelajaran yang terjadi                dalam berbagai konteks seperti di rumah, masyarakat, dan pekerjaan.
c)   Mengarahkan peserta didik agar dapat memonitor dan mengarahkan pembelajaran mereka sendiri sehingga menjadi pembelajaran mandiri.
d)     Mengaitkan pengajaran pada konteks kehidupan peserta didik yang berbeda – beda.
e)      Mendorong peserta didik untuk belajar dari sesama teman dan belajar bersama.
f)       Menetapkan penilaian authentic (Blanchard, 2001).
Dapat dilihat bahwa pandangan CTL di atas merupakan gabungan dari pandangan-pandangan sebelumnya, sehingga dapat dikatakan bahwa CTL merupakan  praktek pengajaran yang baik. (Nur, 2001). Pengajaran kontekstual adalah pengajaran pelajaran yang memungkinkan peserta didik TK sampai dengan SMA untuk menguatkan, memperluas dan menerapkan pengetahuan dan keterampilan akademik mereka dalam berbagai macam tatanan dalam sekolah dan luar sekolah agar dapat memecahkan masalah-masalah dunia nyata atau masalah-masalah yang disimulasikan (Universitas of Washington, 2001). CTL menekankan pada berpikir tingkat lebih tinggi, transfer pengetahuan lintas disiplin serta pengumpulan dan data dari berbagai sumber dan pandangan.
Disamping itu telah diidentifikasi enam unsur kunci CTL seperti berikut ini (University of Washington, 2001).
a.   Pembelajaran bermakna: pemahaman, relevansi dan penghargaan pribadi  peserta didik bahwa ia berkepentingan terhadap konteks yang harus dipelajari. Pembelajaran dipersepsi dengan hidup mereka.
b.   Penerapan pengetahuan: kemampuan untuk melihat bagaimana apa yang di pelajari di terapkan dalam tatanan – tatanan lain dan fungsi – fungsi pada masa sekarang dan akan datang.
c.   Berpikir tingkat lebih tinggi: peserta didik dilatih untuk menggunakan berpikir    kritis dan kreatif dalam mengumpulkan data, memahami suatu isu, atau memecahkan suatu masalah.
  1. Kurikulum yang dikembangkan berdasarkan standar lokal, Negara bagian, nasional, asosiasi, dan / atau industri.
  2. Responsif terhadap budaya: Pendidik harus memahami dan menghormati nilai – nilai, keyakinan – keyakinan dan kebiasaan – kebiasaan peserta didik, sesama rekan pendidik dan masyarakat tempat mereka mendidik. Berbagai macam budaya perorangan  dan kelompok mempengaruhi pembelajaran, budaya-budaya ini, dan hubungan antar budaya-budaya ini, mempengaruhi bagaimana pendidik membelajarkan peserta didiknya. Paling tidak empat perspektif seharusnya dipertimbangkan: individu peserta didik, kelompok peserta didik  (seperti tim atau keseluruhan kelas), tatanan sekolah, dan tatanan masyarakat yang lebih besar.
  3. Penilaian autentik : penggunaan berbagai macam strategi penilaian yang secara valid mencerminkan hasil belajar sesungguhnya yang diharapkan dari hasil belajar sesungguhnya yang diharapkan dari peserta didik. Strategi – strategi ini dapat meliputi penilaian atas proyek dan kegiatan peserta didik, penggunaan portofolio, rubrik, dan panduan.
Pengamatan disamping memberikan kesempatan kepada peserta didik ikut aktif berperan serta dalam menilai pembelajaran mereka sendiri dan penggunaan tiap - tiap penilaian untuk memperbaiki keterampilan menulis mereka. Adapun The Washington Stok Consortium for Contextual Teaching and Learning (2001), telah mengidentifikasi tujuh unsur kunci CTL, seperti berikut:
  1. Inquiri ( inquiry )
1. Diawali dengan kegiatan pengamatan dalam rangka untuk memahami suatu konsep.
2. Siklus yang terdiri dari kegiatan mengamati, bertanya,  menganalisis, merumuskan teori, baik secara individu maupun bersama – sama dengan teman - temannya.
3. Mengembangkan dan sekaligus menggunakan keterampilan berpikir kritis.
  1. Bertanya ( questioning )
1. Digunakan oleh guru untuk mendorong, membimbing dan menilai kemampuan berpikir peserta didik.
2.    Digunakan oleh peserta didik selama melakukan kegiatan berbasis inquiri.

  1. Kontruktivisme ( contructivisme )
1. Membangun pemahaman oleh diri sendiri dari pengalaman - pengalaman baru berdasarkan pada pengalaman awal.
2. Pemahaman yang mendalam dikembangkan melalui pengalaman - pengalaman belajar bermakna.
  1. Masyarakat Belajar ( learning community )
1.Berbicara dan berbagi pengalaman dengan orang lain.
2.Bekerja sama dengan orang lain untuk menciptakan pembelajaran adalah lebih baik dibandingkan dengan belajar sendiri.
  1. Penilaian autentik ( authentic assessment ).
1.Mengukur pengetahuan dan keterampilan siswa.
2.Mempersyaratkan penerapan pengetahuan atau keterampilan .
3.Penilaian produk atau kinerja.
4.Tugas – tugas yang kontekstual dan relevan.
5.Proses dan produk keduanya dapat diukur.
  1. Refleksi ( reflection )
1.Cara – cara berpikir tentang apa – apa yang telah dipelajari.
2.Merevisi dan merespon kepada kejadian, aktivitas, dan pengalaman.
3.Mencatat apa yang telah dipelajari, bagaimana peserta didik merasakan ide ide baru.
4.Dapat berupa berbagai bentuk: jurnal, diskusi, maupun hasil karya / seni.
  1. Pemodelan ( modeling )
1.Berpikir tentang proses pembelajaran sendiri.
2.Mendemonstrasikan bagaimana guru menginginkan para peserta didik untuk belajar.
3.Melakukan apa yang guru inginkan agar peserta didik melakukan.

B.     Kajian Hasil Penelitian
Belajar merupakan satu perubahan yang terjadi melalui latihan atau pengalaman, perubahan tingkah laku, dimana perubahan itu dapat mengarah kepada tingkah laku yang lebih baik, tetapi ada juga kemungkinan mengarah pada tingkah laku yang lebih buruk. Dalam proses belajar mengajar, interaksi aktif yang terjadi di kelas melibatkan individu yang memiliki sifat berbeda – beda, karena perbedaan latar belakang itulah perbedaan dapat dilihat pada kecepatan menyerap pelajaran maupun penyelesaian masalah pada suatu pelajaran.
Selain sebagai mahluk hidup, peserta didik juga merupakan mahluk sosial yang memiliki sifat ketergantungan terhadap peserta didik lain, sehingga mereka saling membutuhkan, dan untuk memenuhi kebutuhan mereka akan berkelompok, bersosialisasi, saling berdiskusi, bekerjasama dan saling melengkapi kekurangan masing – masing. Dalam pembelajaran berkelompok, hubungan antara teman sebaya tidak bisa dianggap remeh, pengaruh teman sebaya itu lebih mudah diserap dan diterima sehingga peserta didik termotivasi untuk belajar lebih baik.
Metode pembelajaran IPA merupakan alternatif pengajaran yang diharapkan dapat menciptakan suasana baru dalam belajar. Para pengajaran yang diharapkan dapat menciptakan suasana baru dalam belajar. Para peserta didik secara individu membangun kepercayaan diri terhadap kemampuannya untuk menyelesaikan masalah dalam pelajaran IPA yang banyak dialami peserta didik. Dengan menonjolkan interaksi dalam belajar metode CTL ini dapat membuat peserta didik menerima peserta didik lain yang kemampuan dan latar belakangnya berbeda, juga membantu mengasah kemampuan berpikir peserta didik dengan saling berdiskusi, bekerjasama dan berlatih. Selain itu pembelajaran dengan metode CTL  juga akan melatih peserta didik untuk fokus pada satu tema hingga selesai, mendengarkan dan menghargai pendapat – pendapat orang lain dan merangkum  pendapat atau temuan dalam bentuk tulisan, juga akan melatih peserta didik untuk saling memberi dan menerima, peserta didik yang memiliki kemampuan tinggi dalam menyerap pelajaran dapat memberikan tutorial sebaya kepada teman kelompoknya yang berkemampuan agak rendah, sehingga akan memperoleh pemahaman yang lebih baik dari sebelumnya.

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN


A.      Setting Lokasi dan Subyek Penelitian
1.      Setting Lokasi Penelitian
Setting dalam penelitian ini meliputi : tempat penelitian, waktu penelitiaan dan siklus Penelitian Tindakan Kelas (PTK) sebagai berikut :
a.    Tempat Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di SDN Cilincing 02 Pagi Jakarta Utara pada kelas V Semester I Tahun pelajaran 2008 – 2009 dengan pokok bahasan Penyesuaian Makhluk Hidup . Sebagi subjek dalam penelitian ini adalah kelas V dengan jumlah peserta didik sebanyak 37 orang, yang terdiri dari 19  perempuan dan 18 laki-laki.
b.    Waktu Penelitian
Penelitian ini diadakan pada semester ganjil tahun pelajaran 2008 – 2009 dari bulan Juli 2008 sampai dengan bulan Oktober 2008. Penentuan waktu penelitian mengacu kepada kalender akademik sekolah, karena dalam Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research) memerlukan beberapa siklus yang membutuhkan proses belajar mengajar yang efektif di sekolah.

Tabel 1 : Jadwal Kegiatan Penelitian



















NO

KEGIATAN

Juli
Agustus
September
Oktober


1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4


1
Mengidentifikasi Masalah


 v















2
Menyusun Program Penelitian


 v















3
Membuat Proposal Penelitian



v














4
Pelaksanaan tindakan 1
(Pertemuan 1 siklus 1)




 v













5
Pelaksanaan tindakan 1
(Pertemuan 2 siklus 1)





 v












6
Refleksi Siklus 1






 v











7
Pelaksanaan tindakan 2
(Pertemuan 1 siklus 2)







v










8
Pelaksanaan tindakan 2
(Pertemuan 2 siklus 2)








 v









9
Refleksi Siklus  2









 v








10
Pengelohan data hasil penelitian
















11
Pembuatan laporan hasil penelitian












v
v




12
Pelaporan hasil penelitian













v
v



13
Pengesahan hasil laporan PTK























































  1. Prosedur Penelitian
            Penelitian tindakan kelas dilaksanakan dalam dua siklus. Dalam setiap siklus dilakukan suatu tindakan diwujudkan dalam kegiatan belajar mengajar satu kali pertemuan yang lamanya 40 menit.
            Setiap siklus penelitian terdiri dari perencanaan tindakan observasi dan refleksi, secara garis besar kegiatan yang dilakukan pada tiap langkah penelitian adalah sebagai berikut :



Ada empat kegiatan utama pada setiap siklus, yaitu : (a) perencanaan, (b) tindakan, (c) pengamatan, (d) refleksi yang dapat digambarkan sebagai berikut :













Oval: Permasalahan


Perencanaan
Tindakan 1
 

Pelaksanaan
Tindakan 1
 










 



Refleksi 1
 
Pengamatan/
Pengumpulan data 1
 
            siklus 1


Perencanaan
Tindakan 2
 
        siklus 1


















Refleksi 2
 


Pengamatan/
Pengumpulan data 2
 





 






Dilanjutkan
Siklus se;lanjutnya
 
       siklus 2







Oval: Apabila permasalahan
Belum
terselesaikan

 


   
                               

Gambar 2 . Empat fase Penelitian Tindakan Model Kurt Lewin

I.         SIKLUS I
Materi pelajaran pada siklus pertama ini adalah tentang : Makhluk hidup
a.       Perencanaan Tindakan I
Peneliti menyusun :
1.      Rencana Pembelajaran
2.      Membuat soal tes awal dan tes akhir
Tindakan yang direncanakan adalah memfokuskan perhatian peserta didik dengan memberikan pertanyaan awal untuk memotivasi peserta didik.
              b.       Pelaksanaan Tindakan I
                        Tindakan yang pertama, peneliti bekerja sama dengan rekan sejawat ( guru kelas V ) sebagai pengamat ( observasi ). Peneliti memberikan beberapa pertanyaan untuk memotivasi peserta didik. Dalam menyajikan materi, peneliti menggunakan model CTL diadakan tes untuk mengevaluasi tindakan satu ini. Hasil pekerjaan peserta didik dikoreksi dan dikelompokan sesuai dengan tingkat kesulitan yang dialami peserta didik dalam menyelesaikan soal evaluasi. Kemudian dicari cara mengatasinya.
            c.         Observsi Tindakan I
                                    Selama proses belajar mengajar berlangsung teman sejawat mengamati dan mencatat aktivitas peneliti sebagai pengajar serta aktifitas peserta didik dan sikap peserta didik selama proses pembelajaran berlangsung.
d.                 Refleksi Tindakan I
Semula hal yang diperoleh oleh observer dan kemudian didiskusikan untuk dipresentasikan tentang pelaksanaan siklus I ternyata hasil pembelajaran yang diperoleh belum memuaskan. Untuk memperoleh hasil yang lebih baik maka pelaksanaan dilanjutkan pada siklus II.
II.        SIKLUS KEDUA
Pada siklus II materi pembelajaran tentang Penyesuaian makhluk hidup.
a.   Perencanaan Tindakan II
Berdasarkan hasil tindakan siklus I dan materi yang diajarkan, maka peneliti menyusun :
1.      Rencana Pembelajaran
2.      Membuat soal tes awal dan soal tes akhir
Pada siklus II tindakan yang direncanakan adalah memfokuskan perhatian peserta didik dengan memberikan konsep – konsep dasar tentang penyesuaian semua makhluk hidup terhadap keberlangsungan hidupnya.
b.   Pelaksanaan Tindakan II
Pada kegiatan ini peneliti melakukan pembelajaran menjelaskan penyesuaian makhluk hidup untuk keberlangsungan hidupnya sesuai dengan rencana. Dengan memberikan motivasi pada peserta didik pada awal pelajaran, peneliti memberikan pertanyaan dan menunjuk beberapa peserta didik untuk maju mengerjakan soal. Pada akhir pelajaran diadakan tes untuk mengevaluasi soal. Pada akhir pelajaran diadakan tes untuk mengevaluasi tindakan II. Hasil pekerjaan peserta didik diteliti, bagian mana yang nantinya perlu direvisi.
            c.   Observasi Tindakan II
Selama berlangsunya proses pembelajaran, teman sejawat menacatat segala kegiatan yang dilakukan baik oleh peneliti maupun sikap yang dilakukan peserta didik.
d.      Refleksi Tindakan II
Setiapa temuan didiskusikan dan di interprestasikan yang mana hasilnya digunakan sebagai pedoman menentukan langkah siklus III, ternyata pada siklus ini hasil yang diperoleh peserta didik sudah optimal. Maka pada siklus berikutnya tidak perlu dilakukan.


C.                 Pengumpulan Data
Sumber data penelitian tindakan kelas ini adalah data yang langsung diperoleh dari subyek penelitian yang meliputi data tes hasil belajar peserta didik.
Prestasi belajar IPA yang divalidasi adalah instrument tes ulangan harian, alat pengukuran data pada ulangan harian dilakukan dengan tes tertulis yang berbentuk soal isian. Sedangkan data keaktifan peserta didik dalam mengerjakan tugas diamati setiap kegiatan tatap muka.
D.        Analisis Data
            -     Menggunakan hasil observasi pelaksanaan tindakan
            -     Hasil belajar peserta didik atau evaluasi dianalisis berdasarkan ketentuan belajar peserta didik
            -     Observasi tentang sikap dianalisis berdasarkan perubahan sikap dan tingkah laku peserta didik setelah proses pembelajaran.
E.        Indikator Keberhasilan
                        Indikator keberhasilan pada penelitian tindakan kelas ini adanya peningkatan hasil ulangan harian peserta didik dari 60.00  menjadi 65.
            Dan adanya peningkatan presentase peserta didik dalam mengerjakan tugas dari siklus pertama sampai dengan siklus ke II.

BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A.                Deskripsi Data
Dari hasil belajar yang dicapai setelah proses kegiatan penelitian selama 2 siklus perbaikan pembelajaran IPA materi penyesuaian makhluk hidup dengan metode CTL pada peserta didik kelas V di SDN Cilincing 02 Pagi, Cilincing Jakarta Utara. Diperoleh data siklus sebagai berikut:
1. Deskripsi Data Siklus I
Pada siklus I setelah kegiatan penelitian melalui tahapan perencanaan, tindakan, obeservasi dan refleksi didapat data sebagai berikut :
Tabel 2
Hasil Pembelajaran IPA Kelas V SDN Cilincing 02 Pagi

No
Nilai
Jmlh Siswa
Jmlh Nilai
Kriteria
Ket
Sgt Krg
Kurang
Cukup
Baik
Sgt Baik
1
50
8
400
21.62 %




Nilai Rata-rata kelas = 2220: 37 =  60.00
2
55
8
440
21.62 %




3
60
7
420

18.92 %



4
65
8
520


21.62 %


5
70
2
140



5.41 %

6
75
4
300



10.81 %

Jumlah
37
2220
43.24 %
18.92 %
21.62 %
16.21 %





Grafik 1
Kriteria Hasil Pembelajaran IPA Kelas V
SDN Cilincing 02 Pagi  pada Siklus I



Grafik 2
Presentasi Hasil Pembelajaran IPA Kelas V
SDN Cilincing 02 Pagi  Pada Siklus  I


Berdasarkan tabel. 2. Nilai rata-rata mata pelajaran IPA kelas V pada Siklus I adalah 60.00 masih dibawah nilai kriteria ketuntasan minimal mata pelajaran IPA 65. Sebanyak 16 orang peserta didik (43.24 %) masih mendapat perolehan nilai dengan kriteria sangat kurang. Sebanyak 7 orang peserta didik (18.92 %) mendapat perolehan nilai kriteria kurang dan hanya 8 orang peserta didik (21.62 %) yang mendapat perolehan nilai dengan kriteria cukup, dan 6 orang peserta didik (16.21 %) yang mendapatkan perolehan nilai dengan kriteria baik. Ini berarti bahwa peserta didik yang sudah memahami materi pelajaran IPA kompetensi penyesuaian makhluk hidup dengan metode CTL masih sangat sedikit hanya 37.83 % nya saja. Selebihnya 62.17 % belum memahami materi pelajaran IPA yang disampaikan dengan metode CTL sehingga masih diperlukan perbaikan untuk meningkatkan hasil belajar pada siklus II.
Tabel 3
Nilai Rata-rata Aktivitas Peserta Didik Kelas V
SDN Cilincing 02 Pagi  pada Siklus I

No
Nilai
Jmlh Siswa
Jmlh Nilai
Kriteria
Ket
Sgt Krg
Kurang
Cukup
Baik
Sgt Baik
1
40
6
240
16.21 %




Nilai Rata-rata kelas = 1955 : 37 = 52.84
2
45
7
315
18.92 %




3
50
6
300

16.21 %



4
55
6
330

16.21 %



5
60
5
300


13.51 %


6
65
4
260


10.81 %


7
70
3
210



8.11 %

Jumlah
37
1955
35.13 %
32.42 %
24.32 %
8.11 %




Grafik 3
Kriteria Aktivitas Peserta Didik Kelas V
SDN Cilincing 02  Pagi  pada Siklus I

Grafik 4
Presentasi Aktivitas Peserta Didik  Kelas V
SDN Cilincing 02 Pagi  Pada Siklus  I

Berdasarkan tabel 3 diperoleh presentasi aktivitas peserta didik pada siklus I, sebanyak 13 peserta didik  (35.13 %) termasuk kriteria sangat kurang, 12 peserta didik (32.42 %) kurang, dan hanya 9 orang peserta didik  (24.32 %) yang termasuk kriteria cukup (mau bekerja sama, berinisiatif, penuh perhatian dan bekerja sistematis ). Ini berarti masih perlu dilakukan perbaikan pada siklus II. 
Refleksi Siklus I
a.       Pelaksanaan pembelajaran dengan metode CTL masih belum optimal terlihat dari hasil nilai rata-rata mata pelajaran IPA yang masih dibawah KKM, yaitu 60.00.
b.      Guru masih cenderung pada metode ceramah sehingga suasana belajar belum terkondisikan untuk metode CTL.
c.       Tugas yang diberikan guru belum bisa diselesaikan tepat pada waktunya. Hal ini karena peserta didik kurang memahami langkah-langkah kerja metode CTL.
Untuk memperbaiki kekurangan yang ditemukan pada siklus I maka untuk siklus II perlu dilakukan perencanaan sebagai berikut :
a.       Menyiapkan perbaikan pembelajaran
b.      Memberikan penjelasan tentang langkah-langkah kerja metode CTL.
c.       Menggunakan metode CTL lebih konsisten.
d.      Memberikan bimbingan pada peserta didik yang mengalami kesulitan.







2. Deskripsi Data Siklus II
Pada siklus II setelah melakukan proses penelitian didapat data sebagai berikut :
Tabel 4
Hasil Pembelajaran IPA Kelas V
SDN Cilincing 02 Pagi Pada Siklus II
No
Nilai
Jmlh Siswa
Jmlh Nilai
Kriteria
Ket
Sgt Krg
Kurang
Cukup
Baik
Sgt Baik
1
55
1
55

2.70 %



Nilai Rata-rata kelas = 2980 : 37 = 80.54
2
60
1
60

2.70 %



3
65
1
65


2.70 %


4
70
8
560



21.62 %

5
80
10
800



28.57 %

6
90
16
1440




45.71 %
Jumlah
37
2980

5.40 %
2.70 %
50.19 %
45.71 %

Grafik 5
Kriteria Hasil Pembelajaran IPA Kelas V
SDN Cilincing 02 Pagi pada Siklus II



Grafik 6
Presentasi Hasil Pembelajaran IPA Kelas V
SDN Cilincing 02 Pagi  Pada Siklus  II

Berdasarkan tabel 4 Nilai rata-rata mata pelajaran IPA kelas V pada siklus II adalah 80.54 lebih tinggi dari nilai KKM mata pelajaran IPA (65). Hanya tinggal 2 orang peserta didik (5.40 %) yang termasuk kriteria kurang dan 1 orang peserta didik (2.70 %) memperoleh nilai cukup, 8 orang peserta didik (21.62 %) memperoleh kriteria sangat baik dan 26 orang peserta didik (45.71 %) memperoleh criteria sangat baik. Ini berarti metode CTL yang digunakan dalam pembelajaran IPA memang dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik kelas V SDN Cilincing 02 Pagi.


Tabel 5
Nilai Rata-rata Aktivitas Peserta Didik Kelas V
SDN Cilincing 02 Pagi pada Siklus II

No
Nilai
Jmlh Siswa
Jmlh Nilai
Kriteria
Ket
Sgt Krg
Kurang
Cukup
Baik
Sgt Baik
1
50
1
50

6.67 %



Nilai Rata-rata kelas = 2729 : 307 = 73.75
2
55
1
55

3.33 %



3
65
3
195


10 %


4
70
7
490



23.33 %

5
75
9
675




26.67 %
6
78
8
624




16.67 %
7
80
8
640




13.33 %
Jumlah
37
2729

10 %
10 %
23.33 %
56.63 %


Grafik 7
Kriteria Aktivitas Peserta Didik Kelas V
SDN Cilincing 02 Pagi pada Siklus II




Grafik 8
Presentasi Aktivitas Peserta Didik  Kelas V
SDN Cilincing 02 Pagi Pada Siklus  II

Berdasarkan tabel 5, diperoleh nilai rata-rata aktivitas peserta didik pada siklus II  73.75 dengan kriteria baik dan sudah tidak ada lagi peserta didik yang termasuk kriteria sangat kurang, hanya 2 peserta didik (10 %) masuk kriteria kurang, 7 (23.33 %) orang masuk kriteria baik dan selebihnya 25 orang peserta didik (56.63 %) masuk kriteria sangat baik. Ini berarti metode CTL  sesuai dengan kebutuhan dan katerikteristik peserta didik kelas V SDN Cilincing 02 Pagi yang energik dan aktif namun kurang percaya diri.
 Refleksi Siklus II
a.       Pelaksanaan pembelajaran dengan metode CTL dapat meningkatkan hasil belajar Matematika peserta didik kelas V SDN Cilincing 02 Pagi. hal ini terbukti dari hasil nilai rata-rata mata pelajaran IPA yang mencapai 80.54  lebih tinggi dari nilai KKM dan masuk kriteria sangat baik.
b.      Peserta didik sudah dapat mengembangkan ide dan gagasan dalam menentukan dan menyelesaikan tugas serta mampu mempersentasikan hasil temuannya dengan baik. Hal ini terlihat dari jumlah peserta didik yang masuk kriteria baik berjumlah 25 orang peserta didik  (56.63 %) dari jumlah peserta didik seluruhnya 37 orang peserta didik.

B.     Pembahasan Persiklus Pembelajaran IPA
Tabel 6
Perbandingan Hasil Pembelajaran IPA
Kelas V SDN Cilincing 02 Pagi
Pada Siklus I dan 2

NO
Siklus
Nilai rata-rata Kelas
Kriteria
1
Siklus I
60.00
Kurang
2
Siklus II
80.54
Sangat Baik

Grafik 9
Perbandingan Hasil Pembelajaran IPA Kelas V
SDN Cilincing 02 Pagi pada Siklus I dan II
Berdasarkan tabel 6 dan Grafik 3.1 perbandingan hasil pembelajaran IPA Kelas V SDN Cilincing 02 pagi  pada siklus I dan Siklus II menunjukkan peningkatan nilai rata-rata, yaitu pada siklus I hanya 60.00 termasuk kurang menjadi 80.54 termasuk kriteria sangat baik. Hal tersebut menunjukkan bahwa penggunaan metode CTL yang didukung oleh media pembelajaran yang baik mampu meningkatkan hasil pembelajaran IPA kompetensi penyesuaian  makhluk hidup pada peserta didik kelas V SDN Cilincing 02 Pagi.
Peserta didik menjadi lebih aktif, kreatif, dan inovatif sehingga pembelajaran menjadi lebih menyenangkan dan bermakna.
Keberhasilan tersebut dapat dilihat dari perbandingan nilai rata-rata hasil belajar dan nilai rata-rata aktivitas peserta didik mulai dari siklus I dan siklus II yang semakin meningkat pada tiap siklusnya hingga akhirnya mencapai nilai dengan baik.
Tabel 7
Perbandingan Nilai Rata-rata Aktivitas Peserta Didik kelas V
SDN Cilincing 02 Pagi pada Siklus I dan II
 NO
Siklus
Nilai rata-rata Aktivitas
Kriteria
1
Siklus I
52.84
Kurang
2
Siklus II
73.75
Baik




Grafik 10
Perbandingan Hasil Aktivitas Peserta Diidk Kelas V
SDN Cilincing 02 Pagi  pada Siklus I dan II
Berdasarkan tabel 7 dan Grafik 10 perbandingan nilai rata-rata aktivitas peserta didik  kelas V SDN Cilincing 02 Pagi menunjukkan peningkatan nilai rata-rata, yaitu pada Siklus I hanya 52.84 termasuk kriteria kurang menjadi 73.75 termasuk kriteria baik pada siklus II. Hal ini menunjukkan bahwa metode CTL dapat membuat peserta didik menjadi lebih aktif, kreatif dan inovatif sehingga pembelajaran menjadi lebih menyenangkan dan bermakna.


BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

A.                 Kesimpulan
 Berdasarkan hasil penelitian maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :
1.         Metode CTL dapat meningkatkan hasil belajar IPA kompetensi penyesuaian makhluk hidup  pada peserta didik kelas V SDN Cilincing 02 Pagi. Hal ini terbukti dari nilai belajar IPA peserta didik kelas V yang meningkat pada tiap siklusnya (Siklus I = 60.00 Siklus II = 80.54) pada siklus II memperoleh nilai diatas rata-rata kelas dari nilai KKM mata pelajaran IPA dan termasuk kriteria sangat baik.
2.         Metode CTL sesuai dengan kebutuhan karakteristik paserta didik kelas V SDN Cilincing 02 Pagi yang energik dan aktif. Hal ini terbukti dari nilai rata-rata aktivitas peserta didik yang meningkat pada tiap siklusnya (Siklus I = 52.84 Siklus II = 73.75). Pada Siklus II diperoleh nilai rata-rata aktivitas peserta didik yang tinggi dan termasuk kriteria baik.
3.      Metode CTL (Contextual teaching and learning) merupakan pendekatan belajar yang mendekatkan materi yang dipelajari oleh peserta didik dengan konteks kehidupan sehari-hari peserta didik. Metode CTL dalam kegiatan KBM dikelas dapat berupa metode ceramah, diskusi, demonstrasi, eksperimen, tanya jawab dan kerja kelompok, dari metode diatas metode mana yang paling cocok digunakan pada materi yang akan diajarkan. Metode CTL memerlukan guru yang inovatif sehingga materi pembelajaran yang diajarkan, tidak membosankan.  SDN Cilincing 02 Pagi berupaya menghasilkan kompetensi lulusan, yaitu peserta didik yang berpikir logis, kreatif, inovatif, memecahkan masalah, serta berkomunikasi dengan berbagai media, melalui metode CTL yang diterapkan secara berkesinambungan .

B.                 Saran
Berdasarkan temuan-temuan yang diperoleh selama penelitian tindakan kelas yang telah dilakukan maka peneliti mengajukan beberapa saran untuk perbaikan antara lain :
1.         Penerapan metode CTL sebaiknya disesuaikan dengan kebutuhan dan karakteristik peserta didik agar dapat berhasil dengan baik.
2.         Guru harus mampu menciptakan suasana pembelajaran yang aktif, kreatif, inovatif dan menyenangkan melalui pemilihan metode pembelajaran yang tepat sehingga dapat memberikan hasil belajar yang baik.
3.         Kepala Dinas Pendidikan, Kepala Sekolah dan guru agar lebih meningkatkan sarana prasarana, fasilitas belajar dan pelayanan sehingga proses belajar lebih kondusif dan akan menghasilkan peserta didik yang berkualitas.

DAFTAR PUSTAKA

Alipandie.I, 1984, Didaktik Metodik Pendidikan Umum. Surabaya : Usaha Nasional.
Blanchart, Allan, 2001, Contextual Teaching And Learning B.E.S.T.
Mohammad Soleh, 2003, Pembelajaran Kontekstual Dan Kecakapan Hidup Dalam Kurikulum KBK, Dikdas DKI, Makalah tidak diterbitkan.

Nur, Muhammad 2001, Pengajaran Dan Pembelajaran Kontekstual, Makalah tidak diterbitkan.

Nur,Muhammad 2001, Contextual Learning Dalam Pendidikan IPA, Makalah tidak diterbitkan.

Rusyam,T, Kusdinar, A. Arifin. Z, 1992, Pendekatan Dalam Proses Belajar  Mengajar. Bandung : Remaja Karya.

Sumartini, 2003. MPMS, Dalam Kinerja Sekolah Dan Kompetensi Guru, Makalah tidak diterbitkan.

Surya Muhammad, 1995. Psikologi Pembelajaran Dan Pengajaran. Bandung jurusan PPB FIB IKIP  Bandung.

Sudjana, 2000, Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar, Bandung : Siswa baru Algensindo.

Slamet PH, 2001, Menejemen Berbasis Sekolah, jurnal pendidikan dan kebudayaan No.27. th. 6, Jakarta, Balitbong Depdiknas.

Slamet PH, 2005, MBS, life skill, KBK, CTL Dan Saling Keterkaitannya, artikel bulletin pelangi pendidikan edisi III hal 13.

Usman, Uzer Moch,1991. Menjadi Guru Professional. Bandung : Resda Karya.










Tidak ada komentar:

Poskan Komentar